Wealth Motivation Advisor
Welcome, Guest!

Flash News:

Vision : to be one of the best wealth planner in Indonesia through education and consultation

Motto : your trusted partner in wealth planner

Member Login

If you have been granted access to a current account, merely login to your account with your assigned username and password.

Username
Password
Subscribe Newsletter
Event Calendar
Media Partner
Info Seminar
Customer Support
Live Support 1
Live Support 2
Live Support 3
Live Support 4
Live Support 5
Get Our App for Android
WMA Indo on Facebook WMA Indo on Twitter

Bambu Runcing dan Bamboo Investing

“If you fail to plan, you plan to fail” 

 

Awalnya artikel ini hendak saya publikasikan menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 67 pada tanggal 17 Agustus 2012 lalu, namun karena keinginan saya untuk perfect terhadap artikel ini menyebabkan artikel tidak bisa saya lanjutkan pada saat itu. Artikel ini kemudian saya lanjutkan kembali dan akan saya publikasikan awal tahun 2013 sehubungan dengan momentum yang tepat akan adanya tahun baru yang membawa impian dan harapan yang baru pula. Dalam rangka menyambut Kemerdekaan RI dan tahun baru 2013 mendatang, saya terbeban untuk membagikan hasil pemikiran saya berdasarkan pengetahuan yang saya miliki agar masyarakat dapat memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan yang saya maksud disini bukanlah kemerdekaan fisik seperti hal nya jaman penjajahan atau jaman memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan namun kemerdekaan yang saya maksudkan disini adalah jenis kemerdekaan lainnya yaitu kemerdekaan finansial.

 

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk mengingat kembali dan tidak pernah melupakan sejarah bagaimana perjuangan para pahlawan kita yang telah gugur demi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Pelajaran sejarah pada masa sekolah saya dahulu selalu menceritakan kepada kita bagaimana sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini terbentuk, kita dijajah oleh kolonialisme Belanda selama 3,5 abad dan masih ditambah dengan penjajahan Jepang selama 3 tahun. Pada awal perjuangan para pahlawan kita, dengan minimnya senjata yang dimiliki, pilihan senjata pada waktu lalu yang sangat terkenal adalah Bambu Runcing.

Bambu Runcing

Bambu Runcing adalah senjata yang terbuat dari Bambu yang kemudian diruncingkan. Hingga saat ini bambu runcing telah menjadi lambang dan simbol di beberapa daerah di Indonesia sebagai keberanian dan pengorbanan dalam meraih kemerdekaan. Bambu Runcing digunakan sebagai alat perjuangan, berangkat dari ketiadaan, kekurangan peralatan perang yang tersedia, sementara perjuangan harus dilanjutkan terutama setelah Indonesia merdeka. Musuh Indonesia setelah proklamasi menjadi sangat banyak dan dengan kekuatan besar, Jepang yang masih bercokol, Belanda yang ingin menguasai lagi dan Sekutu yang juga akan menjajah menggantikan Jepang dan Belanda maka persenjataan sangatlah dibutuhkan. Bambu Runcing dan peralatan tradisional lain menjadi alternatif, murah, bisa digunakan secara masal demi mencapai kemerdekaan. Saya meminta pembaca memperhatikan kata yang saya berikan penekanan dengan huruf tebal dan underline untuk penjelasan saya berikutnya. Kesimpulannya, bambu runcing merupakan suatu senjata yang legendaris dalam masa sebelum dan setelah kemerdekaan itu sendiri. Pertanyaan kritis saya adalah mengapa Bambu Runcing sangat terkenal dan menjadi legenda dibandingkan jenis senjata lainnya? Karena Bambu Runcing berangkat dari ketiadaan senjata pada waktu lalu, alternatif senjata yang tersedia, murah dan mudah diperoleh dan bisa dibuat secara massal. 

Bamboo Investing

Lantas, apa kaitannya Bambu dengan Kemerdekaan Finansial seperti yang telah saya bahas? Ketika saya mempersiapkan dan memikirkan artikel ini membutuhkan waktu yang relatif lama hingga menemukan judul yang sesuai untuk artikel ini, yaitu Bambu. Bambu pada masa kemerdekaan merupakan senjata yang digunakan untuk memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan, maka Bambu pula lah yang akan membantu masyarakat Indonesia mencapai kemerdekaan finansial yang saya maksudkan. Bagaimana bisa?

Ijinkan saya menceritakan kepada pembaca mengenai seseorang yang menginspirasi saya secara pribadi dan tanpa kenal lelah berjuang untuk menginspirasi masyarakat Indonesia demi mencapai kemerdekaan finansial dan saya anggap sebagai seorang coach atau mentor untuk saya khususnya di bidang investasi. Beliau adalah Bapak Michael Steven selaku CEO perusahaan investasi terkemuka di Indonesia. Jika saya membahas mengenai bambu maka pikiran saya langsung tertuju kepada Beliau yang selalu mengenalkan kepada masyarakat istilah Bamboo Investing.

Dalam penjelasannya, Beliau menceritakan kepada saya mengapa menggunakan bambu. Beliau terinspirasi bambu ketika sebagai senjata merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dan Beliau teringat pula bagaimana dahulu bambu digunakan sebagai tabungan tradisional atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan “celengan”. Dan melalui contoh bambu ini pula, Beliau ingin menginspirasi masyarakat Indonesia sebagai senjata (kembali) untuk mencapai kemerdekaan finansial.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan Bamboo Investing? Bamboo Investing sebenarnya merupakan cara atau strategi investasi yang sebenarnya sederhana dan mudah dipahami yaitu dengan melakukan investasi sejumlah dana secara disiplin, konsisten dan teratur dalam suatu periode waktu. Contoh, saya melakukan investasi setiap minggu sebesar Rp 100.000,- maka secara disiplin, konsisten dan teratur pula saya akan menyisihkan sebagian dana saya untuk investasi tersebut setiap minggu. Sederhana bukan? Pembaca bisa melakukan aplikasi investasi tersebut setiap hari, minggu atau bulan secara teratur sesuai dengan kemampuan finansial Pembaca. Tentunya semakin besar dana yang Pembaca siap investasikan, semakin besar pula kemungkinan Pembaca memperoleh keuntungan.

Masalahnya yaitu adalah Produk Investasi apa yang tepat untuk strategi Bamboo Investing diatas? Tanpa mengesampingkan peran dunia perbankan dalam perekonomian Indonesia, kurang pas jika Pembaca melakukan investasi tersebut pada bank. Mengapa demikian? Anda bisa membaca artikel saya sebelumnya atau klik link di dalam judul berikut ini “Save or Invest, Mana Yang Anda Pilih?

Jika pembaca ingat beberapa kata yang saya garis bawahi sebelumnya yaitu alternatif, murah, massal demi mencapai kemerdekaan, maka pada paragaraf ini saya akan menggunakan analogi bambu sebelumnya dengan analogi bambu pada bamboo investing yang dikenalkan oleh Bapak Michael Steven.

Alternatif. Alternatif produk investasi yang saya maksud adalah Reksadana Indeks. Secara sekilas, reksadana adalah produk investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi yang profesional, sehingga investor mempercayakan sejumlah dana investasi kepada Manajer Investasi tersebut untuk dikelola dengan cara melakukan pembelian pada unit reksadana tersebut dengan suatu harga tertentu (atau dikenal dengan istilah Nilai Aktiva Bersih atau NAB). Sedangkan indeks yang saya maksud mengacu pada indeks saham (bukan saham secara individual), misalnya Indeks LQ-45 yang seringkali digunakan, hal ini berarti Indeks (atau pembobotan) dari 45 Saham yang sering dikenal dengan istilah Blue Chips karena secara umum memiliki fundamental perusahaan dan likuditas transaksi yang baik misal Astra (ASII), Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Unilever (UNVR), Telkom (TLKM), dsb yang umumnya perusahaan tersebut diketahui pembaca dengan baik. Kesimpulannya, jika Pembaca menyisihkan dana untuk melakukan investasi secara Bamboo Investing dengan melakukan pembelian terhadap Reksadana Indeks berbasiskan LQ-45, maka Pembaca sebenarnya secara sederhana telah melakukan investasi terhadap 45 saham tersebut (dan bukan masing-masing saham secara individu) yang dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi.

Murah. Murah disini bukanlah “Murahan”. Murah yang saya maksudkan disini adalah untuk membeli reksadana tersebut, Pembaca tidak perlu membayangkan dana investasi awal dalam jumlah yang sangat besar. Saat ini Reksadana Indeks dapat dibeli dengan dana investasi yang murah yaitu minimal Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah). Bila Pembaca ingin menambah dana investasi atau top up, maka Pembaca dapat melakukannya setiap waktu dengan minimal kelipatan Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) sesuai kemampuan dan kondisi finansial Pembaca.

Mengapa saya sebut bukan “Murahan”? Karena dengan dana investasi yang murah tersebut, pembaca bisa membeli kumpulan saham LQ-45 tersebut dengan dana investasi yang sangat terjangkau dibandingkan bila pembaca membeli saham-saham tersebut secara individu karena harga saham yang relatif lebih tinggi bila dilihat secara individu. Menarik bukan? Untuk memberikan gambaran yang jelas kepada Pembaca, saya ingin menunjukkan dengan pergerakan Indeks LQ-45 melalui gambar dibawah ini.

 

Pergerakan Indeks LQ-45 Periode 2000 - 2012

Pergerakan Indeks LQ-45 Periode 2010 - 2012 (3 tahun terakhir)

Bila melihat data 3 (tiga) tahun terakhir mulai tahun 2010 hingga akhir 2012, maka Indeks LQ-45 telah mengalami kenaikan mencapai 48% dengan rata-rata per tahun memberikan return 15% (bukan berarti fixed return setiap tahunnya). Dengan rata-rata 15% per tahun dan diatas bunga deposito di perbankan maupun inflasi Indonesia yang memiliki rata-rata 7-8% per tahun (Time Value of Money), maka Reksadana Indeks tentunya menjadi alternatif yang patut diperhitungkan selain tentunya membutuhkan dana investasi yang sangat minim untuk memulai investasi.

Masal. Sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya di bidang investasi khususnya Pasar Modal, terdapat beberapa persepsi masyarakat yang menurut saya sudah saatnya mengalami perubahan yaitu Pasar Modal hanyalah untuk kalangan berduit saja, Investasi Awal di Pasar Modal membutuhkan modal yang sangat besar, dan lain sebagainya. Saya harap melalui Reksadana Indeks ini persepsi tersebut mulai terkikis karena Reksadana Indeks menunjukkan bahwa investasi dapat dimulai dari modal yang sangat kecil dan masyarakat Indonesia dapat mengikutinya tanpa membedakan kalangan berduit atau tidak. Sudah saatnya kita merubah persepsi kita untuk mencapai kemerdekaan finansial bersama.

Kemerdekaan Finansial 

Pada waktu awal saya berkarir di dunia Pasar Modal, saya sering mendengar pada waktu saya memberikan edukasi melalui seminar, training atau workshop bahwa Indonesia maju, rakyat tidak menikmati atau kemajuan hanya milik kaum elite semata. Secara pribadi, saya bisa memahami pandangan seperti itu karena minimnya edukasi Pasar Modal bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan pola pikir banking minded dibandingkan investment minded. Semoga melalui artikel ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan mulai mencari tahu dengan baik dan benar mengenai produk investasi yang terdapat di Pasar Modal Indonesia untuk mencapai kemerdekaan finansial yang menjadi idaman bagi semua orang.

Selain hal tersebut, Indonesia sudah diakui oleh dunia dengan bergabung di G-20 (20 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia) sejak 2009, pengakuan investment grade dari lembaga pemeringkat dunia, beberapa institusi dunia melihat prospek Indonesia di masa mendatang sangat cerah bahkan beberapa riset menunjukkan Indonesia mampu menjadi Top Five di dunia (Source: Internet), dan lain sebagainya. Bila pembaca mendapatkan informasi ini, bila dikaitkan dengan Reksadana Indeks yang saya jelaskan sebelumnya, bagaimana menurut pembaca prospek Indonesia di masa mendatang? Dan bagaimana kaitannya terhadap performa Reksadana Indeks yang memiliki korelasi positif dengan kemajuan ekonomi negara tersebut?

Informasi lebih lanjut, pembaca dapat melakukan download Capital Market Outlook 2011 dan 2012 (upcoming) di website pribadi saya di www.jimmydimaswahyu.com untuk mendapatkan informasi lebih lengkap yang saya susun secara sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia. Saya sungguh berharap, bila pembaca mulai mencari, mendapatkan dan melakukan action terhadap informasi-informasi tersebut diatas, jangan sampai kehilangan kesempatan untuk melakukan tindakan untuk mencapai kemerdekaan finansial pribadi. Dan saya berharap pula, di masa mendatang saya tidak mendengar lagi kalimat “Indonesia bertumbuh, rakyat tidak menikmati”.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca. Bila memang bermanfaat, tidak ada salahnya untuk membagikan artikel ini kepada masyarakat untuk mencapai kemerdekaan finansial bersama demi majunya Bangsa Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin mencanangkan Tahun 2013 ini sebagai Tahun Kemerdekaan Finansial bagi Indonesia tercinta.

Jimmy Dimas Wahyu (JDW)

jimmy@jimmydimaswahyu.com

www.jimmydimaswahyu.com

 

Keywords: Capital Market, Pasar Modal, Wealth Planner, Wealth Motivation Advisors

		
Rate this article:
Artikel ini telah dibaca sebanyak: 980 kali.
Jan 2,2013 at 18:41:57

Artikel Selanjutnya

Unique Visitors:
Wealth Motivation Advisor
Copyright (c) 2011 WMA Indo - All right reserved
Website designed and maintained by Growinc